Masuk Gua, Menyentuh Nyata: Cara Bupati Michael Thungari Membaca’ Sangihe dari Sarang Burung Walet

oleh -1882 Dilihat

SANGIHEReportasemanado.com — Jalan menuju kebijakan sering kali dimulai dari ruang rapat. Namun bagi Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, arah itu justru dimulai dari lorong gelap sebuah gua di Pulau Kalama, Kecamatan Tatoareng.

Kamis, 30 April 2026, Thungari tak sekadar Melakukan Perjalanan Dinas Pulau Terluar, Ia mengenakan perlengkapan sederhana, menapaki batuan licin, dan masuk ke dalam gua tempat sarang burung walet dipanen—sebuah aktivitas yang selama ini hanya akrab bagi warga setempat. Di sana, ia ikut memanen, merasakan langsung denyut pekerjaan yang selama ini menopang sebagian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tanah Tampungang Lawo.

“Ini bukan sekadar kunjungan. Saya ingin tahu langsung seperti apa perjuangan masyarakat,” ujar Thungari di sela kegiatan, suaranya masih bercampur gema gua. Ia mengakui pengalaman itu menjadi yang pertama baginya—sekaligus membuka perspektif baru tentang risiko yang dihadapi warga.

Panen sarang walet bukan pekerjaan ringan. Selain harus menembus ruang sempit dan gelap, para pemanen juga dihadapkan pada risiko terpeleset hingga ancaman keselamatan lainnya. Dari dalam gua itulah, Thungari melihat bahwa komoditas bernilai tinggi tersebut menyimpan cerita kerja keras yang jarang tersorot.

Alih-alih berhenti pada pengalaman personal, ia menarik garis lebih jauh: pentingnya menjaga keberlanjutan habitat walet di Pulau Kalama. “Sumber daya alam ini harus tetap dijaga. Ini bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk generasi berikutnya,” katanya.

Bagi warga, kehadiran seorang bupati yang turun langsung ke lokasi panen menjadi peristiwa yang tak biasa. Kepala Desa Kalama, Eksplandriks Kahimpong, menyebut langkah tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Sudah ada beberapa bupati datang ke sini, tapi baru kali ini ada yang masuk langsung ke gua dan ikut panen bersama masyarakat,” ujar Kahimpong. Ia menilai kehadiran itu bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk kedekatan yang memberi makna tersendiri bagi warga.

Kunjungan kerja tersebut tak hanya berhenti pada panen walet. Pemerintah daerah juga menggelar pengobatan gratis, menyalurkan bantuan bagi pelajar, serta menghadirkan pasar murah bagi masyarakat setempat.

Di Pulau Kalama, Thungari seolah mengirim pesan sederhana: memahami daerah tak cukup dari laporan. Kadang, seorang pemimpin perlu masuk ke “gua”—secara harfiah maupun maknawi untuk melihat sendiri, merasakan, lalu bertindak.

Dan dari gelapnya gua walet itu, sebuah pendekatan kepemimpinan menemukan cahayanya.

(Ryansengala)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Reportase Manado di saluran WHATSAPP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.