Sangihe-Reportasemanado.com — Pasca gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Kepulauan Sangihe, sekelompok anak muda bersama pelaku industri kreatif dan komunitas lokal memilih merespons bencana dengan cara yang berbeda. Mereka menghadirkan Aksi Peduli Sangihe, sebuah kegiatan penggalangan dana yang memadukan musik, teknologi, dan semangat gotong royong untuk membantu masyarakat terdampak di wilayah perbatasan.
Kegiatan yang digelar oleh T2SU (Tim Tanggap Segala Urusan) ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Juniver Production, TRS Production, dan KSS. Penggalangan dana dilakukan melalui siaran langsung (live streaming) yang melibatkan sejumlah pegiat seni dan konten kreator, sehingga masyarakat dapat ikut berpartisipasi dari berbagai daerah.

Berbeda dengan aksi kemanusiaan pada umumnya, T2SU menjadikan panggung musik sebagai medium untuk menyatukan kepedulian. Melalui lagu, doa, dan interaksi digital, mereka mengajak publik untuk turut membantu warga yang terdampak bencana, khususnya di wilayah-wilayah yang berada di garis terdepan Indonesia.
Menurut penanggung jawab kegiatan Recky Petahiang, bantuan yang terkumpul akan difokuskan bagi masyarakat di Pulau Kawio, Matutuang, dan Marore, tiga kawasan terluar Kabupaten Kepulauan Sangihe yang merasakan dampak gempa dan membutuhkan dukungan pemulihan.
Nama T2SU sendiri bukanlah kelompok yang baru muncul saat bencana terjadi. Komunitas ini telah terlibat dalam berbagai aksi kemanusiaan sebelumnya, termasuk saat erupsi Gunung Ruang di Kabupaten Kepulauan Sitaro. Bersama sejumlah vendor dan komunitas, mereka terus bergerak membantu masyarakat yang membutuhkan tanpa membedakan wilayah maupun latar belakang.
Founder T2SU, Anastasya Tamusa, mengatakan bahwa semangat utama gerakan ini adalah memastikan masyarakat terdampak tidak merasa sendirian menghadapi masa sulit.
“Gempa bumi mungkin mengguncang bangunan dan kehidupan masyarakat, tetapi kami percaya tidak akan mampu mengguncang semangat gotong royong orang Sangihe. Melalui musik, teknologi, dan kepedulian bersama, kami ingin membuktikan bahwa kita bisa bangkit dan saling menguatkan melewati masa sulit ini,” ujar Anastasya.
Ia menambahkan bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk besar. Menurutnya, sekecil apa pun bantuan yang diberikan akan menjadi harapan bagi warga yang sedang berjuang memulihkan kehidupan mereka.
Aksi yang diinisiasi T2SU menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan dan tantangan geografis wilayah kepulauan, solidaritas masyarakat tetap menemukan jalannya. Ketika bumi berguncang dan meninggalkan luka, kepedulian hadir sebagai kekuatan yang menyatukan.
Dari nada dan doa, untuk Sangihe tercinta. Sebuah pesan sederhana yang kini menjelma menjadi gerakan bersama demi membantu saudara-saudara di pulau-pulau terluar bangkit kembali
(Ryansengala)







