Reportasemanado.com — Riuh tepuk tangan memecah ruang sidang itu ketika palu diketuk tiga kali. Nama Cintya NC Bojo resmi diumumkan sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Utara untuk periode mendatang. Di antara wajah-wajah lelah yang sejak pagi mengikuti jalannya konferensi, senyum tipis Cintya tampak menyiratkan lega—dan barangkali juga beban baru yang segera menanti.
Pemilihan kali ini bukan tanpa kejutan. Sejak awal, pertarungan diperkirakan berlangsung ketat. Dua kubu besar saling menggalang dukungan, masing-masing percaya diri dengan peta kekuatan yang mereka miliki. Namun, dinamika berubah ketika suara dari wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR) mulai diperhitungkan secara serius.
BMR, yang kerap dianggap “pinggiran” dalam percaturan organisasi tingkat provinsi, justru tampil sebagai penentu. Delegasi dari wilayah ini datang dengan satu sikap: solid. Dalam forum yang kerap diwarnai tarik-menarik kepentingan, kekompakan itu menjadi komoditas langka—sekaligus menentukan.
“Ini bukan sekadar soal siapa yang menang,” ujar salah satu peserta konferensi, setengah berbisik di sela kerumunan. “Ini soal bagaimana daerah yang selama ini dianggap kecil bisa menentukan arah organisasi.”
Cintya tampaknya memahami benar arti kemenangan ini. Dalam pidato singkatnya, ia tidak banyak bicara soal program muluk. Ia justru menyinggung pentingnya merangkul semua wilayah, termasuk yang selama ini merasa kurang terwakili.
“PWI bukan hanya milik satu kota atau satu kelompok,” katanya, suaranya tenang namun tegas. “Kita harus memastikan semua suara didengar.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi konteksnya jelas. Ada harapan yang dititipkan dari daerah-daerah seperti BMR—harapan agar tidak lagi sekadar menjadi lumbung suara saat pemilihan, tetapi juga bagian dari arah kebijakan organisasi.
Di luar ruang sidang, beberapa anggota dari BMR terlihat berkumpul. Wajah mereka sumringah, meski tidak berlebihan. “Yang penting kami sudah menunjukkan bahwa kami ada,” kata seorang di antaranya. Tidak ada euforia berlebihan, hanya kepuasan yang terasa sunyi namun dalam.
Kemenangan Cintya juga mencatatkan sejarah tersendiri. Di tengah lanskap organisasi pers yang masih didominasi figur-figur lama, kehadirannya memberi warna baru. Namun, tantangan yang menunggu tidak ringan—mulai dari konsolidasi internal hingga menjaga independensi di tengah tekanan eksternal yang kian kompleks.
Malam mulai turun ketika satu per satu peserta meninggalkan lokasi konferensi. Kursi-kursi dikosongkan, spanduk mulai diturunkan. Hiruk-pikuk yang sejak pagi memenuhi ruangan perlahan menghilang, menyisakan jejak-jejak keputusan penting yang baru saja diambil.
Di tengah semua itu, satu hal menjadi jelas: kemenangan Cintya Bojo bukan semata hasil hitung-hitungan suara. Ia adalah cerminan dari perubahan peta kekuatan—di mana suara dari pinggiran, seperti BMR, tak lagi bisa dipandang sebelah mata.(Amir Halatan)






