100 Hari Kerja Thungari–Bulahari: Membara Tanah Tampungang Lawo

oleh -2894 Dilihat

SangiheReportasemanado.com
Dalam waktu singkat sejak dilantik, duet kepemimpinan Bupati Michael Thungari dan Wakil Bupati Tendris Bulahari langsung menyalakan bara semangat perubahan di Bumi Tampungang Lawo. Program 100 Hari Kerja mereka bukan sekadar janji politik, tapi gerakan nyata yang menyentuh denyut nadi rakyat hingga ke pelosok kampung.

Langkah awal mereka langsung ke akar persoalan. Ambulance Gratis di setiap Puskesmas dan Rumah sakit, Vaksinasi rabies gratis digelar di wilayah-wilayah rawan, merespons status Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies yang menghantui Sangihe sejak 2019. Tak tinggal diam, mereka juga menggagas gerakan tanam cabai lokal secara masif. Kampung Angges menjadi titik mula, tempat ribuan bibit ditanam sebagai simbol kemandirian pangan dan upaya menekan inflasi dari dapur rakyat.

Dalam bidang layanan publik, sebuah terobosan digital diluncurkan: Lapor Bupati Sangihe. Warga kini bisa menyampaikan keluhan langsung tanpa rasa takut, dijamin kerahasiaannya, dan dijawab dengan cepat. Birokrasi pun diajak berlari, bukan lagi berjalan lambat.

Tak hanya itu. Pemerintah baru ini juga menggelontorkan bantuan pangan cadangan ke desa-desa terpencil. Sebanyak 250 keluarga dari 60 desa menerima langsung bantuan yang tak hanya meredakan beban hidup, tetapi juga menanamkan kesadaran ekonomi rumah tangga yang bijak dan tahan banting.

“Kami tidak mungkin bisa bekerja sendiri. Perubahan butuh kolaborasi—dari tokoh masyarakat, petani, nakes, sampai kader posyandu,” ujar Thungari dalam banyak kesempatan.

Salah satu gebrakan besar lainnya adalah komitmen menghadirkan listrik 24 jam di kampung-kampung kepulauan. Target ini dikebut dalam 100 hari pertama, dimulai dari hasil pertemuan strategis Bupati Thungari dengan Direktur Distribusi PT PLN, Adi Priyanto.

Dengan suplai daya yang kini hanya surplus 9 persen, sebagian wilayah Sangihe masih gelap gulita selama separuh hari. Enam kampung bahkan belum tersentuh jaringan listrik sama sekali. Tapi bagi Thungari–Bulahari, ini bukan alasan untuk menyerah.

“Listrik adalah hak dasar. Ini bukan soal fasilitas, tapi soal martabat warga negara,” tegas Thungari.

Gerakan perubahan ini bukan sekadar proyek 100 hari. Ini adalah cara baru memimpin, membangun, dan merangkul rakyat. Dari kampung ke kampung, semangat baru sedang menyala—dan tidak akan padam.

(Advetorial/Ryansengala)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Reportase Manado di saluran WHATSAPP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.