Sangihe-Reportasemanado.com — Empat tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah rumah Produksi kreatif untuk bertahan di tengah keterbatasan. Namun, bagi TRS Pro, perjalanan itu bukan sekadar tentang eksistensi, melainkan tentang konsistensi dan semangat berkarya.
Berawal dari sekumpulan anak muda yang mencintai musik, kini TRS Pro menjelma menjadi rumah produksi independen yang melahirkan berbagai karya musik dari tanah Sangihe.
Meski berawal sederhana, TRS Pro bukanlah komunitas atau paguyuban. Mereka adalah tim produksi yang berdiri atas dasar passion dan persaudaraan. Dengan total 16 anggota aktif, sebagian besar di antaranya kini tersebar di Manado dan Yogyakarta untuk kuliah maupun bekerja sebagai PNS. Namun, jarak tak menghalangi semangat mereka untuk tetap berkarya bersama.
“Kalau dibilang suka-duka, banyak sekali. Tapi yang paling berkesan itu ketika kita bisa duduk sama-sama, bahas project, dan wujudkan lagu-lagu yang kita buat sendiri,” tutur Recky Petahiang, Ketua TRS Pro.
Dengan penuh semangat, mereka tetap memproduksi musik secara mandiri. Bagi mereka, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, melainkan tantangan untuk terus berinovasi.
Tahun ini, memasuki usia ke-4, TRS Pro memilih cara yang berbeda untuk merayakan. Mereka menggelar perayaan sederhana bersama anak-anak Panti Asuhan Imanuel Tahuna, sebagai wujud rasa syukur dan kepedulian sosial.
Dalam Agenda Tersebut TRS Pro mendapatkan dukungan internal. Mulai dari suport finansial bersama, hingga donasi yang dikumpulkan lewat baku konsi antaranggota. Selain itu, mereka juga mendapat dukungan dari beberapa pihak seperti Hayana, Juniver Production, Marvein Hontong, serta sejumlah simpatisan baik di Sangihe maupun di luar daerah.
“Empat tahun ini bukan cuma tentang kami. Tapi tentang bagaimana karya bisa punya makna sosial. Kami ingin terus berbagi dan memberi inspirasi,” ujar Recky.
Ke depan, TRS Pro berharap bisa menjadi ruang bagi kawula muda Sangihe untuk mengasah kreativitas dan membangun kolaborasi dalam bidang seni, khususnya musik.
“Torang pengen anak-anak muda Sangihe jangan takut berkarya. Asal punya niat dan komitmen, pasti bisa bikin sesuatu yang besar untuk daerah torang sendiri,” tambahnya.
Empat tahun perjalanan TRS Pro adalah bukti bahwa semangat, kolaborasi, dan cinta terhadap seni bisa melampaui keterbatasan. Dari ruang kecil di Sangihe, mereka membuktikan bahwa karya besar bisa lahir dari hati yang sederhana.
(Ryansengala)






