Bupati Thungari Hadirkan FSBS 2025, Festival yang Menginspirasi dan Menyatukan Budaya Sangihe

oleh -377 Dilihat

Sangihe-Reportasemanado.com— Masa pemerintahan Bupati Michael Thungari dan Wakil Bupati Tendris Bulahari menorehkan catatan bersejarah bagi masyarakat Tanah Tampungang Lawo. Melalui penyelenggaraan Festival Seni Budaya Sangihe (FSBS) 2025, semangat pelestarian tradisi dan inovasi budaya berpadu indah di Pelabuhan Tua Tahuna, Jumat (7/11/2025).

Festival yang berlangsung hingga 15 November itu menjadi simbol nyata bagaimana pemerintahan Thungari-Bulahari (TUARI) menempatkan budaya sebagai poros pembangunan manusia. Di tengah gempuran era digital, FSBS tampil bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi pernyataan identitas dan cinta terhadap tanah leluhur.

“Festival ini adalah wujud kecintaan kita terhadap budaya, seni, dan identitas Sangihe. Melalui karnaval budaya, pameran seni, lomba masamper, musik bambu, hadrah, hingga pesta rakyat, kita memperkuat kebersamaan dan kebanggaan sebagai masyarakat kepulauan,” ujar Bupati Michael Thungari dalam sambutannya.

Warisan yang Dihidupkan Kembali

Di bawah kepemimpinan Bupati Thungari, pemerintah daerah mendorong setiap program pembangunan agar berakar pada nilai-nilai budaya Sangihe. FSBS menjadi wadah bagi masyarakat untuk menampilkan keindahan tradisi sekaligus menghidupkan kembali warisan yang nyaris terlupakan.

Pemerintah daerah melalui festival ini juga memperluas ruang bagi seniman, budayawan, dan pelaku UMKM untuk berkolaborasi dan berinovasi. Bupati Thungari menilai, seni dan adat bukan hanya ekspresi masa lalu, tetapi juga kekuatan ekonomi masa depan.

“Budaya adalah kekuatan pemersatu dan penggerak ekonomi. Melalui festival ini, kita membuktikan bahwa seni dan adat tidak hanya hidup di panggung, tetapi juga berdampak nyata pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Budaya dan Teknologi Berjalan Bersama

Salah satu hal yang menonjol dari FSBS 2025 adalah keberanian untuk memadukan pelestarian budaya dengan kemajuan teknologi digital. Pemerintah daerah memanfaatkan era digital sebagai jembatan untuk mengarsipkan naskah lisan, syair, cerita rakyat, dan kisah kepahlawanan leluhur agar bisa diakses lintas generasi.

“Teknologi bukan ancaman, melainkan jembatan. Dengan dokumentasi digital, kita dapat melestarikan nilai-nilai luhur dan menjadikannya inspirasi bagi industri kreatif, pariwisata, serta pendidikan karakter,” jelas Thungari.

Pendekatan itu memperlihatkan wajah baru pemerintahan daerah yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengemasnya dalam format modern yang inspiratif dan berdaya guna.

Sangihe yang Hidup dari Budayanya

Pembukaan FSBS 2025 turut dihadiri oleh Plt. Sekretaris DPRD Provinsi Sulawesi Utara, jajaran Forkopimda, pimpinan perangkat daerah, tokoh agama, hingga komunitas budaya. Suasana Pelabuhan Tua Tahuna berubah menjadi panggung terbuka yang merayakan keragaman, solidaritas, dan kebanggaan sebagai masyarakat Sangihe.

Bupati Thungari melalui FSBS 2025 seolah mengukuhkan arah pemerintahannya: pembangunan yang berakar pada budaya, berpijak pada jati diri, dan bergerak menuju masa depan yang kreatif.

Festival ini bukan hanya perayaan seni, tetapi cermin dari pemerintahan yang memahami bahwa kemajuan sejati dimulai dari penghormatan terhadap warisan sendiri.

Dengan semangat yang dibangun di era kepemimpinan Michael Thungari, FSBS 2025 menjadi lebih dari sekadar festival — ia adalah gerakan budaya yang menginspirasi dan menyatukan Sangihe.

(Ryansengala/Adv)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Reportase Manado di saluran WHATSAPP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.